Langsung ke konten utama

Pidato Albert Einstein Dihadapan Mahasiswa Universitas California AS

Rekan-rekan yang muda belia.
Saya merasa sangat bahagia melihat anda semua dihadapan saya, sekumpulan orang muda yang sedang mekar yang telah memiliki bidang keilmuan sebagai profesi.
Saya berhasrat untuk menyanyikan hymne yang penuh puji, dengan refrain kemajuan pesat di bidang keilmuan yang telah kita capai, dan kemajuan yang lebih pesat lagi yang akan anda bawakan.

Sesungguhnya kita berada dalam satu kurun dan tanah air keilmuan. Tetapi hal ini jauh dari apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Lebih lanjut, saya teringat dalam hubungan ini kepada seorang muda yang baru saja menikah dengan seorang istri yang tidak terlalu menarik, dan orang muda itu ditanya apakah dia merasa bahagia atau tidak. Dia lalu menjawab, “Jika saya ingin mengatakan yang sebenarnya, maka saya harus berdusta”.

Begitu juga dengan saya. Mari kita perhatikan seorang Indian yang mungkin tidak beradab, untuk menyimak apakah pengalaman dia memang kurang kaya ataukah kurang bahagia dibandingkan dengan rata-rata mausia yang beradab. Terdapat arti yang sangat maknawi dalam kenyataan bahwa anak-anak dari seluruh penjuru dunia yang beradab senang sekali bermain meniru-niru Indian.

Mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita? Jawaban yang sederhana adalah karena kita belum lagi belajar bagaimana menggunakannya secara wajar.

Dalam peperangan, ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membikin hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu. Ilmu yang seharusnya membebaskan kita dari pekerjaan yang melelahkan spiritual adalah menjadikan manusia budak-budak mesin, dimana setelah berhari-hari yang panjang dan monoton kebanyakan dari mereka pulang dengan easa mual, dan harus gemetar untuk memperoleh ransom penghasilan yang tak seberapa. Kamu akan mengingat seorang tua yang menyanyikan sebuah lagu yang jelek. Sayalah yang menyanyikan lagu itu, walau begitu, dengan sebuah itikad untuk memperlihatkan sebuah akibat.

Adalah tidak cukup bahwa kamu memahami ilmu agar pekerjaan meningkatkan berkah manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis, perhatian kepada masalah besar yang tak kunjung terpecahkan dati pengaturan kerja dan pemerataan benda-benda buah ciptaan dari pemikiran kita akan merupakan berkah dan buka

Popular Posts